
KAB.SEMARANG, MNNMEDIA.COM – Usia 60 tahun rupanya bukan alasan bagi Nikmatul Aima untuk menikmati masa tenang. Perempuan asal Desa Bener, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, itu justru memilih terjun ke gelanggang politik desa melalui Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026.
Bukan tanpa alasan. Nikmatul mengaku memiliki kegelisahan melihat potensi desanya yang dinilai belum tergarap maksimal. Dari kegelisahan itulah muncul sederet gagasan, mulai dari pengembangan wisata, pemberdayaan UMKM, hingga digitalisasi pelayanan pemerintahan desa.
Menariknya, Nikmatul menegaskan keinginannya maju bukan didorong ambisi mencari keuntungan ekonomi pribadi. Ia mengaku ingin melihat Desa Bener berkembang dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki.
“Justru karena saya sudah tidak butuh apa-apa, saya ingin berjuang. Saya prihatin, kita punya potensi, tetapi kenapa potensi itu tidak kita kembangkan dan tidak kita gunakan,” kata Nikmatul.
Selama enam dekade mengenal Desa Bener, Nikmatul merasa perkembangan wilayahnya belum menunjukkan lompatan berarti. Padahal, menurut dia, desa tersebut memiliki peluang ekonomi yang bisa dikembangkan.
Ia pun tidak ingin muluk-muluk menjanjikan perubahan besar. Baginya, membenahi apa yang belum optimal jauh lebih penting daripada sekadar menawarkan slogan politik.
“Kalau dibilang perubahan mungkin terlalu ekstrem. Saya ingin ada perbaikan, terutama di Desa Bener,” ujarnya.
Salah satu gagasan yang dibawa Nikmatul ialah menjadikan potensi wilayah sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
Ia melihat sejumlah kawasan di Desa Bener memiliki karakteristik yang bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata maupun pusat kegiatan ekonomi.
Beberapa wilayah yang masuk dalam pemikirannya antara lain Karang Balong, Kadiporo, Bener yang berdekatan dengan Cebongan, serta kawasan Tugu.
Namun, Nikmatul tidak ingin seluruh wilayah dipaksakan memiliki konsep pembangunan yang sama. Pengembangan, menurut dia, harus disesuaikan dengan keunggulan masing-masing kawasan.
Di Tugu, misalnya, keberadaan pasar dinilai bisa menjadi modal untuk membangun pusat aktivitas UMKM.
“Di Tugu itu ada pasar. Bisa kita maksimalkan untuk sentra UMKM. Kita punya pasar sendiri, kenapa harus menggunakan pasar orang lain?” tuturnya.
Bagi Nikmatul, wisata desa bukan semata urusan mendatangkan pengunjung. Lebih dari itu, sektor wisata diharapkan mampu menciptakan perputaran ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat.
Ketika destinasi wisata berkembang, peluang usaha warga juga berpotensi ikut tumbuh. Mulai dari perdagangan, kuliner, hingga pemasaran produk lokal.
Dengan konsep tersebut, wisata dan UMKM diharapkan dapat berjalan beriringan sebagai penggerak perekonomian desa.
Persoalan anggaran kerap menjadi tantangan dalam merealisasikan program pembangunan desa. Nikmatul menyadari hal itu.
Karena itu, ia tidak ingin seluruh rencana pembangunan hanya bertumpu pada dana desa.
Nikmatul mengaku telah menjajaki komunikasi dengan sejumlah calon investor untuk membuka kemungkinan kerja sama pengembangan potensi Desa Bener.
“Kita bukan hanya ngomong doang. Kita punya program, rencananya begini. Kalau dari pemerintah tidak bisa, kita cari alternatif dengan pihak swasta,” katanya.
Menurut dia, keterlibatan swasta bisa menjadi salah satu alternatif pembiayaan ketika kemampuan anggaran pemerintah terbatas.
Selain membuka peluang investasi, Nikmatul juga melihat pentingnya membangun komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk melalui jalur pemerintahan maupun lembaga perwakilan rakyat.
Meski demikian, gagasan tersebut masih memerlukan perencanaan lebih lanjut, terutama terkait mekanisme kerja sama, pengelolaan aset desa, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Tak hanya berbicara soal ekonomi, Nikmatul juga menaruh perhatian pada pelayanan administrasi pemerintahan desa.
Ia menilai perkembangan teknologi semestinya bisa dimanfaatkan untuk membuat pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih cepat dan praktis.
Sistem pendataan yang masih dilakukan secara manual, menurut dia, perlu mulai dibenahi melalui pemanfaatan teknologi digital.
“Sekarang semuanya ada dalam satu genggaman. Kenapa tidak kita maksimalkan? Sekarang itu tidak sulit dan tidak mahal,” ujarnya.
Nikmatul berpandangan, digitalisasi bukan sekadar mengganti pencatatan manual dengan komputer. Lebih penting dari itu, teknologi harus mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Karena itu, peningkatan kemampuan aparatur desa juga menjadi bagian dari gagasan yang ingin didorongnya.
Pemanfaatan teknologi, menurut dia, perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan kesiapan sumber daya manusia.
Persoalan pemasaran produk lokal turut masuk dalam perhatian Nikmatul.
Ia melihat pelaku UMKM memiliki peluang berkembang lebih besar apabila mendapatkan pendampingan, terutama dalam memanfaatkan teknologi untuk menjangkau konsumen.
Langkah awal yang ingin dilakukan ialah mendata seluruh pelaku UMKM di Desa Bener.
Pendataan tersebut diperlukan untuk mengetahui jenis usaha, produk yang dihasilkan, hingga kendala yang dihadapi masing-masing pelaku usaha.
“Nanti kita data semua UMKM, kemudian kita adakan pembinaan. Kita bantu juga untuk pemasarannya,” kata Nikmatul.
Setelah pendataan, pembinaan dan pendampingan pemasaran diharapkan dapat membantu pelaku usaha meningkatkan daya saing produknya.
Pemanfaatan pemasaran digital juga menjadi salah satu peluang yang ingin dikembangkan agar produk warga tidak hanya bergantung pada pasar konvensional.
Dalam pandangan Nikmatul, pengembangan UMKM tidak bisa dipisahkan dari rencana pembangunan wisata desa.
Keduanya justru dapat saling mendukung. Destinasi wisata membuka peluang pasar, sementara produk UMKM menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang ditawarkan kepada pengunjung.
Di tengah dinamika Pilkades Bener 2026, kehadiran Nikmatul membawa tawaran pembangunan yang bertumpu pada penguatan ekonomi lokal dan pembenahan pelayanan publik.
Namun, sebagaimana gagasan politik lainnya, sederet rencana tersebut tentu masih harus diuji dari sisi kelayakan, pembiayaan, dan pelaksanaan.
Pengembangan wisata membutuhkan infrastruktur dan pengelolaan yang matang. Kerja sama investasi memerlukan mekanisme yang jelas, sedangkan digitalisasi pelayanan harus didukung kesiapan aparatur desa.
Begitu pula pemberdayaan UMKM yang membutuhkan pendampingan berkelanjutan agar tidak berhenti sebatas program.
Bagi Nikmatul, langkahnya maju dalam Pilkades merupakan upaya mendorong potensi Desa Bener agar dapat memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.
Kini, gagasan tersebut menjadi bagian dari tawaran politiknya kepada warga.
Sebab, dalam kontestasi politik desa, persoalannya bukan hanya siapa yang mampu menawarkan program paling menarik, melainkan siapa yang nantinya sanggup mewujudkannya.
Dan bagi Nikmatul Aima, usia 60 tahun bukan penghalang untuk mencoba mengambil peran dalam menentukan arah pembangunan Desa Bener.
Tidak ada komentar