
SEMARANG, MNNMEDIA.COM – Ayu Prameswari sempat membayangkan masa depannya berhenti setelah lulus SMP. Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, siswi SMA Mardisiswa, Banyumanik, Kota Semarang itu mengaku, peluang untuk melanjutkan sekolah terasa begitu berat.
Ayahnya bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Sementara, biaya masuk SMA kerap menjadi momok bagi banyak keluarga kurang mampu.
Ayu mengatakan, Ekonomi seperti ini kurang bisa jadi putus sekolah karena tidak bisa membayar uang (biaya sekolah) langsung segitu banyaknya.
“Orang tua sangat senang karena biaya sekolah kan besar dan saya juga sangat terbantu,” ujarnya.
Keyla Sabrina, siswi lain di SMA Mardisiswa mengungkapkan keluarganya juga mengalami kesulitan ekonomi. Baginya, sekolah gratis bukan sekadar bantuan biaya, melainkan kesempatan untuk tetap memiliki masa depan.
“Kalau tidak ada Sekolah Kemitraan, mungkin putus sekolah dulu,” ujarnya.
Kepala SMA Mardisiswa Banyumanik, Marwulandari Sayekti menyatakan bantuan dari pemerintah membuat sekolah dapat menggratiskan berbagai komponen pendidikan, bagi siswa penerima manfaat.
“SPP gratis, uang gedung gratis, buku, juga bisa kami bantu dari dana program. Ini benar-benar membantu anak-anak yang sebelumnya kesulitan mengakses pendidikan,” jelasnya.
SMA Laboratorium Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Vanesha Angelina putri seorang buruh mengaku program Sekolah Kemitraan tersebut meringankan beban keluarganya.
“Kalau tidak ada program ini, orang tua pasti lebih terbebani karena kebutuhan lain juga banyak,” katanya.
Siswa SMA Laboratorium UPGRIS lain, Maulida Dewi Novi Yanti mengatakan bisa bersekolah gratis melalui Sekolah Kemitraan. Dia merasa terbantu dengan program tersebut.
“Sekolah Kemitraan itu gratis. Saya terbantu sekali. Terima kasih Pak Gubernur, akhirnya saya bisa sekolah gratis di sini,” kata Maulida, di salah satu ruang laboratorium sekolahnya.
Kepala SMA Laboratorium UPGRIS, Nor Khoiriyah menyebut ada sejumlah siswa yang sempat berada di ambang putus sekolah, sebelum akhirnya diterima melalui jalur Sekolah Kemitraan Pemprov Jateng.
“Dengan adanya program ini, anak-anak yang tadinya hampir putus sekolah, akhirnya bisa tetap belajar sampai sekarang,” jelasnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menuturkan pihaknya memaksimalkan program Sekolah Kemitraan bagi anak dengan ekonomi kurang mampu.
“Minimal tiap tahun 5.000 anak miskin ekstrem harus dientaskan,” kata Luthfi.
Sebagai informasi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memfasilitasi siswa dari keluarga miskin, dengan program Sekolah Kemitraan.
Ini merupakan program agar siswa bisa sekolah gratis di SMA maupun SMK swasta. Tahun ini, ada 139 sekolah yang tergabung dalam Sekolah Kemitraan dengan kuota 5.004 anak. (ndi)
Tidak ada komentar