TRENDING

Rawat Warisan Ulama, UIN Salatiga dan Nahdlatut Turots Teguhkan Etika Sejarah di Tengah Ancaman Kepunahan Naskah

2 menit membaca
Muhamad Nuraeni
Muhamad Nuraeni
DAERAH - 30 Apr 2026

BANGKALAN | MNNMEDIA.COM – Di tengah derasnya arus modernisasi, upaya merawat warisan intelektual ulama Nusantara kembali ditegaskan sebagai tanggung jawab etis dunia pendidikan. Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora UIN Salatiga melakukan kunjungan akademik ke Nahdlatut Turots di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (28/4/2026).

Kunjungan ini tidak sekadar studi lapangan, melainkan ikhtiar meneguhkan etika sejarah bahwa ilmu tidak lahir di ruang kosong, tetapi ditopang oleh jejak panjang pemikiran para ulama yang kini mulai tergerus waktu.

Di ruang-ruang penyimpanan sederhana, tersimpan manuskrip berusia puluhan hingga ratusan tahun, termasuk karya-karya Syaikhona Kholil. Sebagian dalam kondisi rapuh, sebagian lain nyaris tak tersentuh. Di titik inilah, sejarah diuji: dirawat atau dibiarkan hilang.

Ketua Nahdlatut Turots, Usman Hasan Al-Akhyari, menggambarkan perjuangan sunyi di balik pelestarian naskah.

“Kami menelusuri pesantren, makam, hingga rumah warga. Banyak naskah ditemukan dalam kondisi memprihatinkan. Kalau tidak segera ditangani, bukan hanya kertasnya yang hilang, tetapi juga ilmu dan nilai yang dikandungnya,” ujarnya.

Menurutnya, pelestarian manuskrip bukan semata kerja teknis, melainkan bagian dari menjaga ingatan kolektif umat. Karena itu, proses konservasi dilakukan berlapis dari perawatan fisik hingga digitalisasi, agar naskah tetap hidup dan dapat dipelajari lintas generasi.

Langkah konkret diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman antara kedua lembaga. Kerja sama ini membuka ruang riset, magang, dan publikasi ilmiah berbasis manuskrip klasik, sekaligus menjadi jembatan antara dunia akademik dan sumber otentik keilmuan Islam.

Dekan FUADAH UIN Salatiga, Supardi, menegaskan bahwa pelestarian naskah adalah bagian dari pendidikan karakter dan etika keilmuan.

“Mahasiswa tidak cukup hanya membaca buku modern. Mereka harus menyentuh sumber asli, memahami bagaimana ulama berpikir, dan menghargai proses panjang lahirnya ilmu. Di situlah etika sejarah dibangun,” katanya.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan pekerjaan rumah yang besar. Minimnya kesadaran masyarakat terhadap nilai manuskrip, ditambah keterbatasan fasilitas penyimpanan, membuat banyak naskah terancam rusak sebelum sempat dikaji.

Di tengah kondisi itu, kolaborasi ini menjadi pengingat bahwa menjaga warisan intelektual bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan investasi peradaban. Tanpa upaya serius, generasi mendatang berisiko kehilangan pijakan sejarah—dan bersama itu, kehilangan arah dalam memahami identitasnya sendiri.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS