
Pewarta : Witriyani
SALATIGA |MNNNMEDIA.COM — Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali diuji di lapangan. Tanpa protokoler berlebihan, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Indonesia, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menyusuri gang-gang permukiman di Dukuh Guwo, Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo, Selasa (25/11/2025). Kehadirannya mengejutkan warga, termasuk para ibu hamil dan ibu menyusui yang tengah mengantre makanan bergizi.
Agenda itu bukan sekadar kunjungan formal. Wamen Isyana ingin memastikan distribusi gizi gratis untuk kelompok 3B (bumil, busui, balita non-Paud) benar-benar tepat sasaran. “Layanan gizi tidak boleh ada hambatan. Ini menyangkut tumbuh kembang generasi Indonesia,” tegasnya.
Isyana memulai peninjauan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Argomulyo, salah satu dapur yang menyuplai 10 persen porsi MBG khusus untuk kelompok 3B. Ia mengecek langsung bahan, proses memasak, kualitas hidangan, hingga pencatatan distribusi.
Dari dapur, Wamen berjalan menuju Taman Perum Tegalrejo. Tanpa jarak, ia menyapa para penerima manfaat yang tengah menyantap menu bergizi. Beberapa ibu terlihat antusias menceritakan kondisi kesehatan mereka dan anak-anaknya.
Kunjungan berlanjut ke permukiman padat di Dukuh Guwo, tempat Isyana membagikan langsung paket gizi tambahan bagi ibu hamil dan menyusui. Para warga menyambut dengan haru. Seorang ibu di RT 9 RW 9 mengaku tidak menyangka Wamen datang ke rumahnya. “Saya dan bayi lima bulan yang masih menyusu menerima MBG. Saya sangat berterima kasih,” ujarnya.
Dalam kunjungan ini Isyana didampingi Wali Kota Salatiga dr Robby Hernawan SpOG, Wakil Wali Kota Nina Agustin, dan Ketua PKK Retno Robby Hernawan. Robby menekankan bahwa penanganan stunting tidak hanya soal makanan. “Kondisi rumah, kesehatan lingkungan, sanitasi, dan layanan kesehatan juga harus diperbaiki,” tandasnya.
Ia menilai kunjungan Wamen menjadi dorongan kuat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan program MBG berjalan efektif dan menyentuh kelompok paling rentan.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan paket dukungan gizi kepada warga satu per satu. Wamen memanfaatkan kesempatan itu untuk mendengarkan langsung kebutuhan warga, memastikan tidak ada keluhan yang tertahan.
Program MBG di Salatiga ditargetkan terus diperluas, termasuk kemungkinan menambah SPPG khusus untuk kelompok 3B. “Jika beberapa SPPG sudah memberi 10 persen porsi MBG untuk bumil, busui, dan balita non-Paud, maka ke depan bukan tidak mungkin akan ada dapur yang khusus menangani 3B,” ujar Isyana.
Kunjungan lapangan ini memberi angin segar—bahwa program gizi tidak hanya berhenti di laporan, tetapi diawasi langsung oleh pejabat pusat. Harapannya, anak-anak Salatiga dapat tumbuh lebih sehat, kuat, dan bebas dari ancaman stunting.
Tidak ada komentar