TRENDING

Tebu Rembang Menyala Lagi: SGN dan Kementan Suntik Semangat Baru Petani Lewat Program Bongkar Ratoon

3 menit membaca
Tambah Santoso
Tambah Santoso
DAERAH - 16 Okt 2025

REMBANG | MNNMEDIA.COM – Pagi itu, Kamis (16/10/2025), aroma tanah basah bercampur semangat baru memenuhi udara di Desa Kerep, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang. Di bawah sinar matahari yang mulai meninggi, puluhan petani menanam bibit tebu muda bersama jajaran Kementerian Pertanian dan manajemen PT Sinergi Gula Nusantara (SGN). Penanaman perdana tebu bongkar ratoon ini menandai babak baru industri gula rakyat menuju masa depan yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Bagi sebagian besar petani, kegiatan itu bukan sekadar menancapkan bibit di tanah. Ia adalah simbol perubahan. “Penanaman benih tebu bongkar ratoon perdana ini menjadi momentum penting dalam percepatan realisasi program Hilirisasi Perkebunan di sektor tebu,” kata Plt Direktur Jenderal Perkebunan, dr. Abdul Roni Angkat, yang hadir langsung di lokasi.

Program bongkar ratoon merupakan strategi untuk mengganti tanaman tebu yang telah tiga kali panen dengan bibit baru yang lebih unggul. Cara ini dianggap efektif untuk mengembalikan daya hasil tebu yang mulai menurun, sekaligus mendorong efisiensi dan daya saing industri gula nasional.

“Kami memastikan peningkatan produksi tebu dilakukan dengan pendekatan berkelanjutan dan berbasis inovasi teknologi,” ujar Roni. “Ditjen Perkebunan terus memperkuat hilirisasi komoditas strategis, termasuk tebu, untuk mengurangi ketergantungan impor gula.”

Dukungan penuh datang dari Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Mahmudi. Ia menyebut program bongkar ratoon bukan hanya soal mengganti tanaman, tapi juga menyegarkan ekosistem industri gula dari hulu hingga hilir.

“Ini wujud komitmen kami mendukung program Hilirisasi Perkebunan Kementerian Pertanian. SGN akan terus memperluas peremajaan tebu agar petani dan industri sama-sama tumbuh,” ujarnya.

Mahmudi menjelaskan, pihaknya tengah memperkuat ekosistem tebu rakyat melalui sejumlah program, mulai dari penyediaan benih unggul, penataan varietas, hingga akses pembiayaan lewat Kredit Usaha Rakyat (KUR) Khusus Kluster Petani Tebu.

“Kami telah berkolaborasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk memperkuat ekosistem tebu rakyat. KUR Khusus Kluster ini bahkan tanpa pembatasan plafon, sehingga petani lebih leluasa memanfaatkan untuk modal kerja,” tambahnya.

Riyanto, Ketua Koperasi Petani Tebu Rakyat (KTPR) Rembang, mengaku terharu. “Selama 25 tahun saya menanam tebu, baru kali ini kami merasakan program seperti ini. Ada harapan baru bagi kami, petani tebu,” ucapnya dengan mata berbinar.

Sementara itu, Bupati Rembang, Harno, menilai program bongkar ratoon sebagai langkah konkret yang akan menggerakkan ekonomi pedesaan. Ia mengimbau para petani agar memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.

“Program ini bukan hanya soal tebu, tapi juga soal kesejahteraan. Ia membuka lapangan kerja, memperkuat ketahanan pangan, dan menumbuhkan ekonomi lokal,” kata Harno. Pemerintah daerah, lanjutnya, siap mendukung lewat kebijakan, pendampingan, dan infrastruktur.

Kementerian Pertanian menargetkan sekitar 3.050 hektare lahan tebu di Rembang dapat diremajakan lewat program ini. Angka itu diharapkan menjadi pijakan menuju kemandirian gula nasional.

Dari sisi industri, dukungan datang dari PG Rendeng, Kabupaten Kudus. “Kami siap berkolaborasi dengan petani dan pemerintah agar produktivitas tebu Rembang terus meningkat,” ujar General Manager PG Rendeng, Erwin Fitri Hatmako.

Penanaman perdana tebu bongkar ratoon di Rembang menjadi simbol optimisme baru di tengah tantangan global. Di tanah yang dulu hanya menjadi saksi rutinitas panen, kini tumbuh kembali keyakinan: bahwa kemandirian gula Indonesia bukan mimpi yang jauh, tapi cita-cita yang sedang dikerjakan bersama.

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS